Sabang, Kau Membuat Ku Dalam Masalah!



            Aku adalah seorang mahasiswi yang dulunya kuliah disalah satu kampus negeri di Provinsi Aceh. Mempunyai hobi travelling membuatku memilih bekerja part-time ­sebagai tourist guide agent atau pemandu wisata yang mencakup seluruh wilayah provinsi Aceh. Bagiku kegiatan ini malah bukan aku artikan sebagai sebuah pekerjaan melainkan sebuah hobi. Adakah hal yang lebih menyenangkan selain hobi yang dibayar? Ini adalah pengalaman pribadi yang penulis alami ketika bertugas untuk pertama kalinya sebagai pemandu wisata. Pengalaman bermakna yang bermodalkan keberanian dan negosiasi. Walaupun berperan sebagai new comer di dunia tourism ini, tapi aku dituntut supaya bisa meyakinkan wisatawan bahwa aku adalah tourist guide yang professional

        Alhasil begitu banyak hal-hal tidak terduga mewarnai perjalanan pertamaku ini. Sebagai informasi, klien kami disaat itu bukanlah bule ataupun orang luar negeri lainnya, akan tetapi mereka adalah empat wisnus wanita (Wisatawan Nusantara) yang berasal dari luar provinsi Aceh. Dalam hati aku bersyukur karena pada penugasan pertama yang aku hadapi adalah orang yang sebangsa dan setanah air, setidaknya tidak akan ada kesulitan yang berarti yang akan ku temui, toh aku tak akan mengalami culture shock baik dalam bersikap maupun dalam berbahasa pikirku.


Adapun tempat wisata yang kami tuju adalah sebuah pulau nan mungil diujung barat Indonesia yang menyimpan sejuta pesona, baik itu dari segi keindahan alamnya, di darat maupun dunia bawah laut, begitu juga dari segi sejarahnya. Ia adalah  Pulau Weh atau yang lebih dikenal dengan Sabang. Mereka sangat ingin mengunjungi pulau ini karena memang Sabang punya keunikan sendiri. Sabang adalah simbol kelabu Indonesia pada masa kolonial, mulai dari penjajah Portugis, Belanda, hingga Jepang. Berkunjung ke Sabang, seolah-olah kita bisa melihat kembali bagaimana negeri ini dulunya dikuasai antek asing dalam tempo yang lama, hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya peninggalan benteng-benteng atau bunker Jepang yang tersebar di beberapa titik kota seperti di Ujung Kareung, Aneuk Laot, Bukit Sabang dan di sepanjang Pantai Kasih yang hingga saat ini masih berdiri kokoh seperti sediakala. 

           Pulau Weh tepat berada di pintu masuk selat melaka, oleh karena itu jauh sebelum Singapura dan Batam berkembang seperti saat ini, Sabang telah menjadi pelabuhan utama dalam peta perdagangan internasional. Sejak masa Hindia Belanda, Sabang sudah ditetapkan sebagai pelabuhan bebas bagi perdagangan internasional. Karena letak strategis inilah menjadi alasan kuat mengapa tentara Jepang menjadikan Sabang sebagai pulau pertahanan utama. Apalagi pulau ini dulunya juga menjadi tempat transit para jamaah haji di Indonesia, sangat tepat memang kalau Sabang di canangkan sebagai Pelabuhan Hubungan Wisata Bahari Internasional.

Kembali ke laptop, pada hari pertama jalan-jalan di kota ini semuanya terasa mulus-mulus saja tak ada kendala, ini dikarenakan aku bisa mengandalkan atasanku yang menyamar sebagai supir dikala itu. Alasannya adalah supaya ia bisa melihat langsung bagaimana progress saya dalam bertugas ketika menangani para wisatawan dan juga sebagai media direct training yang apabila ada kesalahan langsung bisa ditegur olehnya dengan memberikan beberapa sugesti untuk perbaikan. Sempat ada beberapa kesalahan yang saya lakukan, namanya juga pengalaman pertama, ya wajar-wajar saja katanya. Kami mengunjungi sejumlah spot andalan di Sabang, seperti Puncak Sabang, Bunker Jepang, pantai Sumur Tiga, Sabang Fair dan malamnya kami tutup perjalanan dengan mencicipi  jajanan khas kota ini yaitu Sate Gurita dan Mie Sedap. Siapapun yang berkunjung ke Sabang wajib mencicipi dua menu andalan diatas kalau mau dianggap sudah berkunjung kesana. Rasanya sungguh tiada dua dan sangat khas. Ini jelas terlihat dari raut muka klien saya yang puas ketika menyantap makanan itu.

Pemandangan Indah di Puncak Sabang

Panorama Wisata Bunker Jepang

           
Menikmati Sunset di Sabang Fair
Memasuki hari kedua, tiba-tiba saya mendapat sebuah pesan singkat dari Mister boss. Dia menginformasikan bahwa ia harus keluar kota pada hari itu juga karena ada keperluan mendadak, jadi supir akan diganti oleh  rekannya yang kebetulan sedang berada di Sabang, ia belum saya kenal sama sekali. Yasudahlah pikirku, yang penting ada yang menggantikan dan mengetahui seluk beluk kota kecil ini, itu saja sudah cukup. 
Karena bagi kamu yang belum pernah ke Sabang, sebagai informasi, karena Sabang merupakan sebuah pulau kecil jadi kondisi topografi kota ini sangat bergelombang dan tidak rata karena ia terdiri dari pegunungan, dataran rendah dan bukit-bukit yang merupakan peralihan dari gunung ke dataran, sudah pasti jalanannya berliku-liku dan penuh dengan tanjakan tinggi rendah yang meliuk-liuk, jalannya sangat sulit di ingat jika kita adalah pendatang baru disana, belum lagi banyak jalan yang satu arah, akan tetapi bagi wisatawan, ini merupakan bonus tersendiri dimana pemandangannya dapat memanjakan mata dengan suguhan panorama gunung dan laut yang berdampingan. Kondisi tersebut membuat wisatawan sering berujar kalau Pulau Weh adalah “Bali-nya Aceh”, tapi saya sebagai orang Aceh sangat tidak setuju dengan pernyataan ini, bisa saja suatu saat kata-kata itu akan terbalik menjadi Pulau Dewata adalah “Sabangnya-Bali” dan ini sangat mungkin terjadi seandainya mereka tau bagaimana keindahan Sabang sesungguhnya. Yuhuuuuu!

By the way, sempat terasa canggung ketika pertama kali mencoba berbasa-basi dengan supir yang baru ini, hal tersebut dikarenakan ia adalah tipe orang yang sedikit tertutup dan tidak banyak bicara. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan Mister boss yang humble dan blak-blakan. Keadaan canggung ini bukan aku saja yang mengalaminya, para wisatawan juga merasakan hal yang sama. Karena walaupun baru satu hari tapi mereka sudah begitu akrab denganku maupun pak boss, pantas saja raut kekecewaan itu dapat terbaca di wajah mereka ketika mendapati kalau supir sudah diganti. aku yakin mereka mau protes dan bertanya-tanya dimana posisi boss ketika itu. Namun niatnya diurungkan demi mengahargai si supir yg baru. Waktupun berlalu, perjalanan hari ini terasa agak berbeda dari kemarin. Tak ada lagi terdengar candaan atau guyonan dari pak supir sepanjang perjalanan. Yang ada hanya suaraku yang sesekali mencoba menjelaskan kepada wisatawan tentang objek-objek menarik yang sekilas terlihat dari balik jendela Innova merah yang kami tumpangi. Puas mendengar penjelasanku tentang Sabang, kelihatannya mereka mengantuk berat kubiarkan saja mereka terlelap. Toh jika mereka tidur, akupun bisa istirahat.


Adapun tujuan tour kita hari itu adalah Tugu Nol Kilo Meter Indonesia dan snorkling di pulau Rubiah. Dua destinasi ini tak mungkin kamu lewatkan begitu saja jika berwisata ke Sabang, bagaimana tidak? Di tugu inilah cikal bakal Indonesia bagian barat dimulai, tidak banggakah kamu mengunjungi titik 0 Indonesia ini? Merinding rasanya, ketika membayangkan berdiri di titik itu sambil mengamati perairan lepas samudra Hindia, disini kita akan sadar betapa luasnya Indonesia, betapa indahnya Indonesia. Namun, celakanya, seumur hidup saya belum pernah sama sekali kesana dan sekarang posisinya saya harus mendampingi dan menjelaskan kepada mereka setiap inci dan segala informasi tentang kedua spot wisata ini. 
Baru sehari yang lalu aku merasa begitu tenang dan santai karena ada orang yang bisa ku harapkan untuk dimintai bantuan. Namun hari ini, tanggung jawab besar itu terasa sangat berat dipundak. Tak ada yang bisa membantu. Sendiri. Hanya sendiri. Tanya ke supir baru? Percuma, dia tidak tau apa-apa selain tentang jalanan saja. Karena ia bukan orang Sabang. Ketika semua hal-hal dan kemungkinan buruk itu sedang menari-nari di pikiran, tiba-tiba saja dentuman keras terdengar begitu mengejutkan. “dooooaaarrrrr”, “Astaghfirullaaah” spontanitas aku mengucapkan. Mereka semua terbangun dari tidur. Ada apa gerangan? Mobilpun serta merta menepi dan kami semua turun ke sisi jalan. Oh my Goodness cobaan apalagi ini? Ternyata ban belakang mobil yang kami kendarai mengenai batuan tajam dipinggir jalan sehingga bocor dan posisi kami sekarang tepat berada di tengah-tengah hutan, dimana disisi kiri terdapat gunung yang menyeramkan sedangkan disisi kanan adalah jurang yang bermuara kelautan.


Hal yang aku takutkan tadinya ternyata memang terjadi, mereka mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang layak mereka tanyakan namun tak layak saya jawab karna saya tidak tahu apakah jawaban yg saya berikan layak dijadikan sebagai sebuah jawaban atau tidak. Ah, kata-kataku jadi terasa berbelit-belit, sama halnya dengan pikiranku ketika itu.
"Kira-kira berapa lama lagi ya Pit perjalanan kita ke Tugu Nol KM?" Ucap salah satu dari mereka. Aku mulai bingung, tak mungkin aku bertanya ke supir dengan suara keras, mereka pasti mendengar dan menjadi heran nantinya, masak saya tidak tau seberapa jauh lagi jaraknya, saya kan tourguide. Padahal nyatanya itulah yang saya alami, saya tidak tau sama sekali. Bukankah saya sudah jelaskan di awal bahwa saya bekerja disini hanya bermodalkan tekat keberanian dan negosiasi saja, hanya bermodalkan ilmu google dan beberapa sumber buku yang saya baca. Iya hanya itu saja modalnya. Supaya mereka tidak bingung saya segera saja menjawab seadanya bahwa perjalanannya tidak jauh lagi. 
Sebelum mereka kembali menyerbu dengan sekaliber pertanyaan yg lain, aku lantas buru-buru bertanya ke supir, namun supaya tak ada yg mengerti percakapan kami, sontak saja aku berbicara dalam bahasa Aceh dengannya. "Peu kira-kira mantoeng jioh perjalanan tanyoe bang? Peu bisa tajak ngen gaki?" ( apa kira-kira masih jauh perjalanan kita bang? Apa bisa jalan kaki saja kesana?) "Hana dek hana jioh le, sanggop lah tajak ngen gaki" ( nggak dek gak jauh lagi, sangguplah kita jalan kaki). Hmmmm, merasa lega, dengan bangganya langsung saja aku perkuat lagi pernyataan tadi bahwa memang perjalanannya tidak jauh lagi, bahkan menawarkan mereka untuk berjalan kaki saja. Namun disebabkan begitu terjalnya jalan menuju ke tempat tujuan, niat berjalan kaki itu kami urungkan dan memilih menemani pak supir mengganti ban saja.


Kakak cantik sedang beraksi membantu supir mengganti Ban

Sepuluh, lima belas dan dua puluh menit berlalu, namun ban tak kunjung juga selesai diganti karena sang supir tak mahir dalam hal ini. Dua dari wisatawan yang masih dikategorikan ABG (Anak Baru Gede) sudah mulai keliatan gerah, sedangkan dua yang lainnya yang sudah terlihat lebih dewasa begitu sabar menunggu, malah terkadang membantu pak supir dengan bersahaja. Tanpa sungkan mereka menarik-narik ban mobil yang sukar dilepaskan sehingga kadang-kadang mengharuskan mereka merunduk di bawah mobil dengan muka mendongak ke atas. Lucu juga melihatnya, mereka sangat tulus membantu. Aku tak terlalu mengkhawatirkan dua kakak-kakak baik hati itu, sekarang tugasku adalah mencari moodbooster untuk dua ABG labil ini. Aku berpikir keras ketika itu, beberapa kali ku coba lontarkan candaan untuk mencairkan suasana namun kelihatannya diwaktu seperti sekarang ini hal-hal sedemikian rupa tidak berlaku sama sekali. Tidak kehabisan akal, aku coba mengelilingi arena sekitaran mobil berhenti, mana tau ada spot menarik yg bisa di jadikan sasaran pengalihan.
Lihatlah aksi montir-montir cantik ini  :D

              Tepat seperti dugaan, kira-kira 300 Meter berjalan dari lokasi kejadian, saya menemukan jalan menuju sebuah pantai yg tersembunyi. Pantai yang sangat indah karna kalau tidak indah ya bukan di Sabang namanya. Langsung saja ku ajak dua adik-adik cantik itu kesana. Seketika saja mereka langsung sumringah dan begitu gembira ketika mendapati sebuah pemandangan pantai biru nan eksotis luar biasa. Ini merupakan sambungan dari pantai Gapang yang jarang dikunjungi wisatawan karena lokasinya di tengah hutan, “Sabaang indaaaaaaaaaah” kata adik wisatawan yang pertama, “Wonderful Islaaaaand” sahut si adik yang satunya lagi.

Indahnya pemandangan pantai tersembunyi di dekat kejadian ban mobil yang bocor
 Puas batinku melihat tingkah polah mereka. “Sabang memang Indah dik, Sabang memang Wonderful makanya tidak salah kalau akhir tahun 2017 nanti akan di adakan event Sail Sabang disini, dimana bermacam agenda telah dipersiapkan, seperti Jambore Iptek, International Free Diving Competition, Sabang Underwater  Photo Contest, Sabang Carnival, Kapal Pemuda Nusantara, Aceh Culinary and Coffee Festival, Sabang Wonderful Expo and Marine Expo, Sales Mission Cruise Operator and Yacht, juga Seminar Wisata Bahari. Kalian bisa melihat berbagai rangkaian acara ter-akbar itu di situs resmi Disbudpar Aceh atau Aceh Tourism Travel, ini merupakan salah satu agenda rutin Sail Indonesia tiap tahun yang dinaungi oleh beberapa kementerian sekaligus, mulai dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dimana sebelumnya ada Sail Komodo pada tahun 2013, Sail Raja Ampat 2014, Sail Tomini 2015 dan terakhir Sail Karimata 2016”. Mereka sangat antusias mendengarkan penjelasanku tentang event ini. Dalam hati aku sangat bersyukur karna pada akhirnya aku berhasil bertanggung jawab atas tugasku sebagai pemandu wisata yang senantiasa harus bisa menjadi apa yang diinginkan costumernya.

        
Kira-kira satu jam berlalu, kami dipanggil karna mobil sudah siap untuk melanjutkan perjalanannya. Tanpa ba-bi-bu lagi mengingat waktu yang sudah begitu mepet, ketika semua anggota sudah lengkap langsung saja mobil tancap gas mengambil langkah seribu. Dua, lima, delapan menit pun berlalu. Aku mulai khawatir dengan ucapanku tadi yang mengatakan kalau jarak ke tugu tidak jauh lagi, bahkan bisa berjalan kaki. Nyatanya perjalanannya masih begitu jauh. Aku sudah mulai deg-degan dan keringat dingin mulai bermunculan ketika akhirnya pernyataan itu muncul juga. “Laah tadi katanya udah nggak jauh lagi perjalanan ke tugu pit, bisa jalan kaki, lha kok nggak nyampe-nyampe yaa ?”

Apa yang harus aku jawab ya Allah, huhuhuhu pertanyaan itu menyiksaku. Tahukah teman, itu baru setengah perjalanan yang harus aku lalui dengan sekelumit kisah yang bergidik ketika dibaca namun pelik ketika dijalani. Belum lagi ketika di tugu 0 KM dan snorkling di Rubiah nantinya, dimana saya belum paham mau rental boat dimana, pulau Rubiah itu yang mana, ada apa saja disana dan bahkan cara memasang peralatan snorkling saja saya belum bisa, kampungan kau pit, hadeuh! Tidak akan cukup waktu memang kalau perjalanan ini dibahas sekaligus. 
Masih banyak tragedi unpredictable lainnya yang menguras otak dan tenaga dalam mensiasatinya, tapi yang jelas saya punya pengalaman luar biasa disini, pelajaran yang membuat saya mandiri dan semakin cinta kepada Aceh, kepada Indonesia, saya sangat yakin bahwa Sabang berpotensi mampu mengembalikan fungsinya dulu bahkan lebih dimana Sabang bisa menjadi Pelabuhan Hubungan Wisata Bahari Internasional suatu hari nanti. Yuk nanti kita hadiri Sail Sabang di akhir tahun ini, mari kita menjadi saksi terselenggaranya event akbar bertaraf International itu yang dimulai dari tanggal 28 November - 5 Desember 2017.
Oh iya, Sampai jumpa di part selanjutnya. Episode yang akan membahas bagaimana jawaban-jawaban pamungkas yang aku berikan ketika di serbu pertanyaan-pertanyaan penasaran mereka. Sabaaaaang! You truly made me in trouble, kau benar-benar membuat ku dalam masalah! Iya semua gara-gara SiABANG yang mendadak keluar kota dan SiABANG yang pendiamnya luar biasa. Huft! Anyway, apapun itu aku bersyukur pernah punya masalah denganmu.

Berikut sedikit bocoran foto-foto ketika mengunjungi Tugu 0 KM Indonesia dan Snorkling di pulau Rubiah.
Tugu 0 KM Indonesia masih dalam tahap perbaikan

Perjalanan Menuju Pulau Rubiah

Kita siap untuk Snorkling :)

Comments

Yelli Sustarina said…
Wuih, perempuan tangguh bisa memperbaiki ban bocor, hebat deh.

Kece banget foto2nya fit, semoga menang ya lomba blognya.
Della Kharisma said…
Kereeeenn
Mau dong dipandu juga sama kka cantik ini kalo nanti ke Sabang hihi
Regarfield said…
Inspiring, salut sama kamu. Saya juga pernah alami ketika masih awal menjadi Guide. Semangat terus dan tetap belajar dan belajar, perkenalan pariwisata Indonesia pada Dunia.
Unknown said…
Wah... Keren kak :)
Aseliiii Yell, baik-baik kali tamuku ketika ituu.

Iyaa, Apalagi kalau melihat langsung Yell, foto2 mah kalah. Aamiin, Yelli juga ��
Yook dekk maen ke Sabang, sekarang udah paham semua seluk-beluk Sabang Insyallaah ahahahaha :D
Waaah, sama-sama guide yaaa, samalah nasib kita, yuk perkenalkan potensi wisata daerah kita :)
Unknown said…
Eaaaaa. Mantapp siss. Terus berkiprahh. Cant wait for sail sabang 2017 ��������
Unknown said…
Mantaaaap😍😍😍
Unknown said…
Waaah ceritanya menginspirasi kak, jadii pengen ke Sabang 😍😍😍, belum pernah sama sekali kesana 😢
Unknown said…
See you at Sail Sabang Event!
Unknown said…
Yook main2 kesana 😇
Unknown said…
Keren kak fitt ��saranghae ��
Unknown said…
Saranghae Sabaaaang :D
Unknown said…
Terimoeng Geunaseh 😇
Unknown said…
Mantap cut kak. Byk bgt ya spot bagus di sabang. Berhenti mendadak kyk bocor ban gt aja bisa dapat spot pantai yg keceh!!
Unknown said…
Jadi pengen sekali kesabang, penasaran setelah baca ceritanya 😁
Unknown said…
Ya begitulah si Sabang cut kak :D
Indonesia tanah airku, sabang tempat kelahiranku, aku bangga padamu ����

Kakpit emang the best inspirator ever ����
Indonesia tanah airku, sabang tempat kelahiranku, aku bangga padamu ����

Kakpit emang the best inspirator ever ����
Direklol said…
Teruskan kak, tulislah semua yang telah kau lihat. Setidkanya ada jendela yang bisa kami buka ketika ingin melihat dunia
Unknown said…
Thank youuu Adeeee :*
Unknown said…
Elniiim keep improving yourself better yaaaa :)
Unknown said…
Sabang aku padamu hahahah
Unknown said…
Woww.. fantastic... What a story, keep it up together, I believe you even can write a good book about Aceh's tourism destinations soon in the future... :D
Fakhrur Radhi said…
Nice story..
Mau jga sekali ke Sabang di pandu Anizar.
Sabang tak terlupakan

Popular posts from this blog

Simple Steps for Healthy Diet

"The Subtle Art of Not Giving a F*ck" in My Version