Antara Merdu VS Sumbang

Ada seorang anak yang baru selesai main lumpur, dengan kondisi tangan yang belepotan kotor pulang ke rumah. Kebetulan di rumah si ibu sedang membuat kue, katakanlah kue Bolu. Dengan nada memelas si anak meminta sepotong kue kepada ibunya. Menurut mu, apakah kuenya akan diberikan kepada si anak? Bukankah ibu yang baik ia yang menyuruh anaknya mencuci tangannya terlebih dahulu? bila perlu pakai sabun yang banyak supaya kumannya benar-benar hilang dan tangannya benar-benar bersih.
Atau misalnya, pada hari minggu selesai joging di Blang Padang (red; tempat hits anak muda Banda Aceh) kamu duduk2 makan semangkok bubur ayam. Tiba2 datang seorang pengamen yang melantunkan lagu andalannya. Maaf cakap ni, kamu tak sanggup dengar lagu yang ia dendangkan, lantaran ia memiliki suara layaknya "kaset rusak", alias sumbang. Saya yakin dengan segera kamu akan mengeluarkan recehanmu supaya dia cepat berlalu dari hadapan. Namun, akan beda ceritanya seandainya si pengamen ini memiliki suara yang merdu. Setiap tarikan nada2nya membuatmu trenyuh terbawa melodi. Apa yang kamu lakukan? saya 100% yakin kau tidak dengan serta merta segera memberikan uang kepadanya. Kau akan tunggu sampai lagunya habis, bahkan bisa jadi kau minta lagi dan lagi untuk membawakan beberapa lagu-lagu yang lain. Kau cukup puas dengan nyanyiannya, Sudah barang tentu uang yang kau berikan juga akan berbeda jumlahnya.
Dua perumpamaan di atas itu cukup jelas untuk kita yang sedang berjuang keras menyerbu doa-doa kepada-Nya. Bila Ia belum mengabulkan bukan berati Dia pelit, Naudzubillah, sedangkan Ia Dzat yang Maha Kaya. Bisa jadi kita belum siap dengan semua amanah itu. Bersihkan dulu jiwamu, sucikan dulu batinmu.
Atau bisa jadi doa-doa kita terlalu merdu bagi-Nya, sehingga Ia tak mau kau segera berpaling diantara sepertiga malam itu setelah semua yang kau minta Ia kabulkan. Dia ingin terus mendengar lantunan doa mu ketika makhluk yang lain memilih tidur dibalik selimutnya.
Baru kemarin kulihat betapa kau begitu bahagia. Namun dengan cepat hari ini wajah itu berubah sebaliknya. Mudah bagi-Nya bukan? Kun Fayakun! Jadilah! Maka
terjadilah.
Mudah bagi-Nya, karena Ia dzat yang Maha membolak-balikan hati manusia.
'Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit
Qalbi ‘Ala Diinik'
“Wahai Dzat yang
membolak-balikkan hati, teguhkanlah
hati kami di atas agama-Mu.”
[HR.Tirmidzi, Ahmad]
Bersabarlah! Jika waktu itu tiba, maka tak akan ada hal apapun yang dapat menghalanginya.
"Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran (yang kau jalani) , yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit".
(Ali bin Abi Thalib)
Teruslah berhusnuzhan kepada-Nya teman.
#OnlyForYou #FruitHeart

Comments

Popular posts from this blog

Simple Steps for Healthy Diet

Sabang, Kau Membuat Ku Dalam Masalah!

"The Subtle Art of Not Giving a F*ck" in My Version