Dream Maker Camp di hotel Rumoh PMI Banda Aceh, 2-5 April 2015

Antara Si Pembeo dan Si Pemimpi






 Mimpi adalah kunci
 Untuk kita menaklukkan dunia
 Berlarilah tanpa lelah

 Sampai engkau meraihnya”

Itu adalah sepenggal lirik lagu “Laskar Pelangi (Nidji)” yang berbicara tentang mimpi, sama halnya dengan apa yang kami bicarakan dua minggu lalu bersama 49 pemuda lainnya dari seluruh penjuru Indonesia. Disana kami belajar saling berbagi dan saling menginspirasi. Begitu banyak hal-hal lama yang dianggap sepele namun layak untuk diperbincangkan (edisi Silet Investigasi :) ), mengenang kembali flash back kisah perjalanan hidup bak sungai yang berliku-liku, menggambar kehidupan idaman dimasa mendatang, menyusun strategi siap tempur akan tuntutan zaman, belajar dari pengalaman sang suhu tentang jurus-jurus andalan dalam menghadapi tantangan, belajar ikhlas dengan mengabdi tanpa pamrih yang didapatkan, dan lain sebagainya, sungguh tidak dapat diuraikan satu persatu momen-momen indah itu, karena terlalu banyak hal jika semuanya harus dituangkan dalam wadah berbentuk tulisan.
Ketika menulis ini saja, memori saya terus bergerilya membayangkan semua kegiatan yang telah kami lakukan selama mengikuti event tersebut. Masih kental dalam ingatan, ketika kami para dreamer bangun jam 5 pagi dan kembali tidur jam 12 malam dengan segala padatnya kegiatan, malahan waktu itu tidak cukup sama sekali, beberapa dreamer yang lain terkadang bergadang sampai jam 3 pagi hanya demi memperjelas kembali kekaburan mimpi yang mereka punya dengan berbagi cerita bersama teman-teman dari belahan pulau lainnya di Indonesia. Ada yang berasal dari tanah Borneo, tanah Jawa, pulau Sulawesi, suku Melayu, Dayak, Minangkabau, Batak, Sunda, Gayo, Aceh dan lain sebagainya. Sungguh 4 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk itu semua.
“Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha”, ucap salah satu peserta. Begitu banyak rintangan yang akan kita hadapi dalam meraih semua impian yang ada. Memang benar adanya, saya akui itu karena saya pun mengalaminya. Jika saya mengulang memori pikiran ini, sebelum saya mengikuti kegiatan Dream Maker Camp, tidak sedikit saya mendengar cibiran dari teman dekat maupun teman jauh mengenai perihal kegiatan tersebut, ada yang katanya Dream Maker adalah kegiatan “Cet Langet” (Red: Khayalan) yang dilakukan oleh sekelompok pemuda aneh yang ingin menularkan keanehannya kepada pemuda lainnya, ada juga yang mengatakan kalau pemuda-pemuda aneh itu hanya ingin menuai keuntungan dan ketenaran semata dihadapan masyarakat dengan kegiatan yang dibuat seolah-olah kelihatan waaah padahal isinya NOL BESAR. Ada. Dan saya pendengarnya. Namun disini saya juga yang menjadi saksi atas diri saya dan untuk teman-teman lainnya yang belum tau apa-apa tentang event tersebut namun hanya berani membeo dari mulut ke mulut atas ketidaktahuannya.
 Dari awal saya memang bimbang antara mendengar panggilan suara hati atau suara orang terdekat disekeliling saya. Hal ini dikarenakan waktu pelaksanaan acaranya beradu dengan acara lainnya yang tidak kalah penting bagi saya, bahkan sangat penting bagi hidup saya untuk ditinggalkan. 50% hati ini seolah yakin kalau Dream Maker adalah acara yang wajib saya ikuti, sedangkan 50% lainnya pikiran ini terkontaminasi oleh pendapat-pendapat yang tidak beralasan. Berada dalam situasi “Galau” layaknya anak muda zaman sekarang, saya memutuskan untuk mengambil jalan tengah dengan mencari info lebih jauh mengenai kegiatan ini, tidak hanya bertanya kepada para alumni-alumni sebelumnya tetapi saya juga melakukan searching berulang kali dengan kata kunci “The Leader”. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui kalau acara “Dream Maker” yang diadakan tim “The Leader” ini pernah meraih penghargaan bergengsi yaitu Indonesia Millenium Development Goals (MDGs) Award pada tahun 2013 yang masuk dalam kategori pengembangan bidang pendidikan. Kegiatannya berupa training motivasi sebagai upaya peningkatan pendidikan, minat, bakat dan kreatifitas pemuda. Otak saya berputar tajam ketika itu, bagaimana mungkin mereka mendapat penghargaan yang gemilang jika mereka tidak melakukan suatu gebrakan yang luar biasa, akhirnya saya menepis semua keraguan dihati dengan memantapkan niat bahwa saya ingin belajar bersama mereka, mencuri ilmu kesuksesan mereka, menyita waktu mereka. Toh pemuda aneh itu juga telah meluangkan waktu sibuknya demi membantu para pemimpi ini mencari titik terang dalam mencapai mimpi gilanya.
“Saya terlihat gila dengan mimpi saya hari ini, namun saya akan terlihat sukses dengan mimpi saya esok hari, karena tiada mimpi yang terlalu besar dan tiada pemimpi yang terlalu kecil” pungkas salah satu peserta yang duduk disebelah saya. Tiba-tiba semangat di hati ini kian membara.
Pelajaran yang saya dapatkan, memang benar hidup berada diantara dua pilihan, menjadi pembeo yang nyaring bunyinya Atau pemimpi yang terus merajut asa.
Tim "The Leader" ketika menerima penghargaan MDGs Award tahun 2013


Comments

Popular posts from this blog

Simple Steps for Healthy Diet

Sabang, Kau Membuat Ku Dalam Masalah!

"The Subtle Art of Not Giving a F*ck" in My Version